Kamu, kitab suciku. Ayat-ayat yang sering lupa kutaruh di kantung celana sebelah mana. Kiri atau kanan? Tahu-tahu saja aku sangat membutuhkannya.
Kamu, kitab suciku. Yang tak punya tempat ibadah, tapi tiba-tiba membuat hatiku harus rebah dan berdarah. Tersundut bara rokok dan membuatku tersudut di pojok gedung tua yang tak punya jendela.
-menjelang tengah hari, di kota yang mencibir pohon.
u n s p o k e n | w o r d s
di sini, semoga kata-kata bisa memilih suaranya sendiri, mencecah pita suara siapa saja.
Minggu, 30 Januari 2011
Selasa, 31 Agustus 2010
dermaga tua (2)
"kafka, freud juga takut.
di dermaga tua,
Jung, anak lelakinya,
membuatnya terenggut."
yang tersisa dariMu,
apakah dermaga?
perahu itu,
atau tanah di seberang telaga?
di dermaga tua,
aku menulis sesuatu.
"o, Yang ditinggal kata,
di mana aku berada, kafka?"
di dermaga tua,
Jung, anak lelakinya,
membuatnya terenggut."
yang tersisa dariMu,
apakah dermaga?
perahu itu,
atau tanah di seberang telaga?
di dermaga tua,
aku menulis sesuatu.
"o, Yang ditinggal kata,
di mana aku berada, kafka?"
dermaga tua (1)
dermaga tua,
kayu-kayu merapuh.
kabut melepuh,
seputih lenguh.
kakiku berhenti,
di bibir telaga.
"apakah ini mati,
atau ditinggal kata?"
tak ada aroma,
tak ada udara.
senyumMu aku lupa,
di sini, aku menua.
kayu-kayu merapuh.
kabut melepuh,
seputih lenguh.
kakiku berhenti,
di bibir telaga.
"apakah ini mati,
atau ditinggal kata?"
tak ada aroma,
tak ada udara.
senyumMu aku lupa,
di sini, aku menua.
Selasa, 10 Agustus 2010
kisah kita pucat pasi
hujan tanpa suara.
bintang bungkam,
malam menganga.
dan gelap sudah tenggelam.
"aku pulang," tulisku
pada bayang tubuhku
di stasiun, di tubir angin,
pada bangku dingin.
aku hanya punya hari ini,
mungkin akan kubagi,
mungkin yang kau nanti-nanti,
sesuatu yang sangat berarti.
"kisah kita pucat pasi," katamu.
tapi aku bersyukur, kita
bisa pulang bersama.
membubuhi "titik" di antara hujan,
dan menatap wajahmu tanpa bosan.
bintang bungkam,
malam menganga.
dan gelap sudah tenggelam.
"aku pulang," tulisku
pada bayang tubuhku
di stasiun, di tubir angin,
pada bangku dingin.
aku hanya punya hari ini,
mungkin akan kubagi,
mungkin yang kau nanti-nanti,
sesuatu yang sangat berarti.
"kisah kita pucat pasi," katamu.
tapi aku bersyukur, kita
bisa pulang bersama.
membubuhi "titik" di antara hujan,
dan menatap wajahmu tanpa bosan.
Langgan:
Entri (Atom)